Tolak Bala Rebo Wekasan: Pro Kontra dalam Islam

Tolak Bala Rebo Wekasan: Pro Kontra dalam Islam

Ritual Rebo Wekasan merupakan istilah yang berasal dari hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, telah memiliki tradisi yang mengakar kuat dengan sebagai doa tolak bala.

Asal Mula Ritual Rebo Wekasan

Rebo Wekasan merupakan sebuah ritual yang berasal dari Islam Klasik. Ritual ini mengacu pada pada perkataan Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf, sebuah ilmu tentang ilmu gaib. Waliyullah itu berkata bahwa setiap tahun Allah SWT akan menurunkan bala’ dalam semalam sebanyak 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu). 

Malam ini yang kemudian dinamakan Rebo Wekasan. Atas dasar inilah, wali tadi membimbing dan mengajak umatnya bertaqarrub. Sehingga, dijauhkan dari bala’ tadi. Sebaliknya, tidak ada satu riwayat pun dari Rasulullah SAW tentang adanya hari naas.

Tata Cara Ritual Rebo Wekasan

Antara satu daerah dengan daerah lain, terdapat perbedaan adat dalam menjalankan ritual ini. Perbedaan tersebut terdapat pada faktor shalat sunnah, doa yang dibaca, minum air azimat, dan ritual selamatan.

1. Shalat Sunnah

Secara umum, tradisi tolak bala pada Ritual Rebo Wekasan tidak ada dalam ajaran Islam. Sehingga, tidak diperbolehkan untuk melakukan sholat sunnah dengan tujuan sebagai bagian dari ritual. Lain halnya dengan ritual doa maupun dzikir masih boleh dilakukan.

Berbagai macam sholat sunnah yang ada telah terdapat aturan yang mutlak. Maka, jika melakukan shalat sunnah dengan tujuan tolak bala, maka hukumnya haram. Sebab, jika dilakukan maka artinya menciptakan syariat baru yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Untuk mendapatkan jadwal sholat lengkap bisa kunjungi Orami.

2. Membaca Doa Tolak Bala

Terdapat aneka doa yang dibaca pada ritual Rebo Wekasan. Doa-doa tersebut diantaranya doa selamat hingga doa yang terdapat pada kitab Mujarobat, Kanzun Najah, hingga kitab kuning lainnya. Faktanya, penyusun doa tadi masih belum diketahui hingga kini, namun makna dan ifadz tidak perlu diperdebatkan. 

Sebab, baik doa bighoiri ma’tsur dan tawassul bukan berasal dari Nabi Muhammad SAW. Namun, berdoa bila dilakukan, maka akan mendapat pahala dari Allah SWT. Untuk mendapatkan doa tolak bala secara lengkap bisa kunjungi Orami.

3. Minum Air Azimat

Sebagai orang beriman sudah seharusnya harus mengimani bahwa tidak ada sesuatu yang bisa mendatangkan manfaat dan mudharat kepada kita selain Allah SWT. Dalam kapasitas sebagai hamba, orang yang beriman dalam upaya dan ikhtiar untuk mencari manfaat dan terhindar dari mudharat. 

Air azimat sebagai bentuk usaha atau ikhtiar, bisa disamakan dengan makan nasi maupun obat-obatan. Kedudukannya sama sebagai bentuk untuk sembuh dari penyakit. Ikhtiar dengan menggunakan air azimat ini juga ada oleh para pada masa hidup Rasulullah SAW. Hukum meminum air azimat ini diperbolehkan.

4. Selamatan

Sebagai bagian dari tradisi selamatan, masyarakat juga membagikan makanan sebagai sedekah kepada saudara dan tetangga. Nasi tersebut dibawa ke mushola atau masjid atau untuk dimakan bersama-sama. Mereka yang membawa nasi cukup membawa makanan ringan, buah-buahan atau bisa juga minuman. 

Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk dari sedekah. Dengan tujuan untuk menjauhkan bala’. Perbuatan positif ini memang dianjurkan sesuai dengan firman Allah dan telah dijelaskan akan mendapatkan balasan kebaikan di akhirat. Diakui atau tidak, ritual selamatan di dalam masyarakat kita sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan yang sesuai ajaran agama. Tidak hanya saat tradisi Rebo Wekasan dilakukan.

Rebo Wekasan: Pro dan Kontra dalam Islam

Rebo Wekasan tidak termasuk bagian dari ajaran agama atau ibadah. Namun, sebagai salah satu dari bentuk perwujudan syukur kepada Allah. Ritual doa tolak bala pada Rebo Wekasan merupakan wujud budaya, seperti halnya ulang tahun, tujuh belas Agustus, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, dan sebagainya. Jadi, tinjauan ada pada teknis perayaan itu sendiri. Belum ada syariat pasti dengan ritual tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.